Rabu, 06 November 2013

[Cerpen Original] Coklat ~ Lisantri

Coklat

Oleh : Lisantri Puspa W.



Di sore hari menjelang malam, aku mendatangi sebuah café bernama Bonhéur. Wangi kafein dan coklat membaur jadi satu di ruangan yang kutempati kini. Aku mulai merapatkan jaketku dan menggosok-gosokkan kembali kedua telapak tanganku supaya hangat. Udara di kota ini kurang lebih -5˚ Celcius. Dengan alasan itu, aku menghangatkan diri di tempat ini. Aku segera duduk ketika, ada tempat yang kosong. Maklum, dengan udara yang kurang bersahabat seperti ini, orang-orang pasti tidak mau menggigil kedinginan di luar bukan? Mereka akan mendatangi tempat-tempat seperti ini-termasuk aku.

Coklat hangat pesananku telah datang. Uap terlihat mengepul dari cangkir porselen. Pelan-pelan kuraih cangkir itu, dan menyeruputnya perlahan-sesekali sambil meniupnya juga. Ah, coklat. Rasa coklat ini apik. Manis, pahit, kental, dan hangat-walau jika dibiarkan pasti dingin. Lidahku benar-benar dimanjakan olehnya.

Saat memandangi cangkir coklat yang masih mengeluarkan uap, tiba-tiba anganku melayang jauh dari raga. Memikirkan bagaimana keadaan seseorang yang kutunggu di sana. Aku pun tersenyum tipis.


o~o~o

“Aku suka padamu, Riya.” Laki-laki itu mengatakannya dengan lantang di koridor sekolah.

Aku mengerjapkan kedua mataku tidak percaya, seakan semua yang ia katakan itu sebuah kebohongan.
“Perlu ku ulang berapa kali sih, agar kau percaya?” keluhnya. Kemudian ia bernafas panjang, “Kau tahu? Aku sungguh-sungguh menyukaimu, maukah kau jadi pacarku?” Pria itu menatap manik sapphire-ku.

Kutatap kembali kedua maniknya yang berwarna gelap. “Kalau begitu… boleh kok,” jawabku sambil tersenyum. 

Beberapa detik kemudian, ia langsung mendekapku dan berbisik pelan di telingaku, “Terima kasih.”

-Ia sungguh konyol saat mengatakan itu dengan seragam putih-birunya-

o~o~o

Waktu di jam tanganku sudah menunjukkan pukul 19.05. Ia telat. Itulah yang pertama terlintas di benakku. Aku sudah menunggu di sini selama dua jam lebih. Kini rasa bosan mulai menghinggap, jadi ku coba membuka ponselku dan menelfonya-lagi- supaya cepat datang. Tapi hasilnya tetap nihil, ia tak menjawab sama sekali. Padahal ia selalu tepat waktu.

o~o~o

“Wah, kau datang duluan?”

“Tentu saja. Aku tidak mau membuat Riya menunggu di hari spesialmu hari ini,” jawab pria yang bertubuh lebih tinggi dariku, dengan cengiran lebar khasnya.

Aku terkikik geli mendengar jawabannya. “Ini cuma hari ulang tahun kok.”

“Padahal ini ulang tahunmu yang ke tujuh belas,” mengalihkan pandangannya dariku, “kau sama sekali tidak mengganggap hal itu penting?”

“Ah, bukan begitu.”

“Mungkin aku yang terlalu berlebihan ya?” Dia kembali menoleh ke arahku. “Tapi pokoknya, aku akan membuatmu jadi putri sehari hari ini.” Kemudian ia menangkap telapak tanganku dan menggenggam jemariku dengan erat.

“Ayo jalan,” lanjutnya tersenyum sambil melangkahkan kakinya. Ia tetap menggenggam tanganku.

-Sikap kekanak-kanakannya di umurnya yang sudah lebih tua satu tahun dariku, selalu membuatku tersenyum-


o~o~o

Ini keterlaluan, sungguh. Padahal sudah kuberitahukan alamat café-nya. Sekarang sudah jam 21.23, ini sudah larut. Cairan coklat hangat di dalam cangkir porselen pun sudah habis. Aku kembali menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku, dan mengeratkan syal wol rajutan di leher jenjangku. Udara semakin dingin. Aku sadar bahwa ia mungkin tidak akan datang, tapi dengan bodohnya aku masih menungguinya di café ini. Berharap keajaiban kecil datang padaku. Kuharap kejadian waktu itu tidak terulang lagi.


o~o~o

“Sudah seminggu kau tidak mengontakku,” sapaku pada pria itu.

“Kau sendiri juga sibuk kan?” Aku mendegar nada ganjil dalam pertanyaanya.

“Tidak juga,” aku mengangkat bahu. “Bukankah kau sendiri juga sibuk mengerjakan tugas kuliah?”

“Tidak, aku pun tak sesibuk yang kau kira.”

“Lantas mengapa kau tidak ingin berbicara denganku selama seminggu ini?”

“Kau terlalu sibuk dengan Dosen muda itu,” jawabnya malas.

“Apa?” Aku memiringkan kepalaku ke sebelah kiri. Ah… rupanya dia cemburu, batinku mencelos. “Dia bukan dosen tetap di mata kuliahku kok,” jelasku mencoba meyakinkannya. “Kau cemburu ya?” godaku.

“Si-siapa yang cemburu?” tingkahnya berubah menjadi gelagapan.

“Sudahlah mengaku saja, akan kupastikan aku akan menjaga jarak dengan Dosen itu,”
“asal kau mau berbicara padaku lagi,” lanjutku sambil menatap kedua maniknya. 

Perlu di-ingat bahwa aku tidak suka tidak berkomunikasi dengan pria ini, karena membuat hatiku sesak akan rindu.

Tanpa aba-aba ia segera memelukku, seakan orang lain tidak boleh mengambilku darinya. Posesif; ia mengekangku bersamanya, tetapi itu suatu kelebihan kecilnya yang aku sukai. Aku pun membalas pelukkanya. Aku benar-benar terpikat oleh pesonanya yang berbeda dari kebanyakkan orang.

“Kau tahu? Kau itu sangat berarti di hidupku.”

-Semakin lama kumengenalnya, semakin rumit pula sesuatu yang harus kupahami tentang dirinya-

o~o~o

Kini café Bonhéur sudah mau tutup, terlihat beberapa pegawainya mulai membersihkan sebagian dari ruangan café. Tentu saja aku segera mengevakuasi diri keluar café, sebelum diusir oleh mereka. Aku pun masih menunggui pria ‘bodoh’ itu di luar café. Walau angin dingin sering menerpaku, dan beberapa orang yang lewat sering menatapku dengan tatapan aneh. Itu tak masalah asalkan ia akan datang. Tidak. Ia harus datang. Bukankah ia berjanji akan datang? Bukankah dia selau menepati janjinyanya? Bukankah dia tidak mau membuatku menderita? Tapi sekarang di mana dia? Dia sama sekali tidak mengabariku tentang keadaanya.

Tanpa kusadari, saat aku masih berkutat dengan pikiranku sendiri. Seseorang tiba-tiba menutup kedua mataku dari belakang, dengan telapak tangan besarnya. Rasanya aku kenal kehangatan tangan ini.

“Maaf,” kata pertama yang dia ucapkan. “Maafkan aku,” lirihnya.

Ini suatu keajaiban kecil dari tuhan untukku-dia benar-benar datang. “Kau sudah datang, jadi aku maafkan,” jawabku dengan mata yang masih ditutup oleh kedua telapak tangannya.

“Maaf,” Ia tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf, “aku sungguh minta maaf.”

“Kau terlalu berlebihan.”

“Tidak, sugguh aku minta maaf. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini.”

Apa? Apa aku salah dengar? Ini benar-benar tidak mungkin, aku membatin. Dadaku mulai sesak, hatiku mulai merasakan nyeri yang entah berasal dari mana.

“Ja-jangan bercanda!” gertakku tak percaya sambil mencoba melepaskan kedua telapak tangannya yang menutupi mataku. Tapi sayangnya itu tak berhasil.

“Tidak, aku serius. Tolong maafkan aku,” terdengar nada bersalah dari suaranya. “Sungguh aku sengaja membuatmu menderita hari ini.”

Cairan bening yang sedari tadi menggenang di pelupuk mataku perlahan, butiran-butirannya meluncur satu persatu dari mataku. Apa ini balasannya dari suatu pengharapan kecil?

“Kumohon maafkan aku,” lirihnya lagi yang terdengar seperti bisikkan, “aku sungguh tak bisa melihatmu menangis, makannya aku menutupi kedua bola matamu,” sesalnya.

Perlahan ia melepaskan kedua telapak tangannya dari wajahku, dan mendekapku dari belakang. “Tolong berhentilah menangis,” pintanya.

Walaupun ia bilang begitu, tapi perasaan nyeri ini tak bisa dihentikan. Dadaku semakin sesak, dan isakkan-isakkan tangis mulai lepas dari bibirku. Tangisanku makin menjadi. Apakah ini berakhir begitu saja? Berat hati ini melepasnya. Tahun-tahun yang kami lewati bersama hanya menjadi sejarah masa lalu.

“Ini salam perpisahan dariku,” kataku dengan suara bergetar dengan berbalik dan membalas dekapannya. Dalam diam kami saling membagi kehangatan melalui pelukkan terakhir kami.

End

=========================================================================

A/n: sebuah intrepretasi dari saya tentang lagu just be friends :') dan berakhir jadi just be ends

Tidak ada komentar:

Posting Komentar