Cermin
Oleh : Lisantri Puspa W.
Di suatu ruangan yang temaram, nampak seorang gadis bersurai Hitam sebahu duduk meringkuk mendekap kedua lututnya. Di balik maniknya yang sewarna Almond, tersirat rasa bersalah dan rasa sedih. Sedih? Kenapa gadis tersebut harus sedih? Padahal beban bagi hidupya kini telah tiada. Bukankah seharusnya ia senang?
Kemudian gadis tersebut mengambil cermin yang
tergeletak di sampingnya. Saat ia memandang cermin tersebut, pantulannya
dirinya nampak di cermin. Dari kontur wajahnya, hidungnya yang mancung, mata
almond-nya yang tajam, rambutnya yang sehitam Batu Satam, dan bibirnya yang
ranum. Semua itu mendekati kesempurnaan. Tapi sayangnya, bulir-bulir bening
mulai menumpuk di pelupuk matanya, dan mulai meluncur bebas-jatuh kebawah.
Menyebabkan lajur-lajur air tebentuk di wajah porselennya. Kemudian ia
mengeratkan genggamannya pada cermin, dan mendekapnya perlahan. Samar-samar
terdengar suara isak tangis yang menggema di ruangan tersebut.
“Kakak…”
lirihnya di sela-sela isak tangisnya.
Seorang
gadis bersurai Hitam sebahu bergegas menuruni anak tangga di rumahnya. Ia
berlari menuju ruang makan untuk mengambil sarapannya. Pertengkaran kecil pun
menghiasi paginya. Sudah bisa ia tebak siapa yang berbicara dengan nada tinggi,
dan siapa yang sama sekali tidak menggubris ocehan orang pertama. Tidak lain
dan tidak bukan adalah Ayah dan adik kembarnya sendiri, Reina.
“Riena.”
Seorang wanita paruh baya memanggil dan menghampiri gadis bernama Riena, kakak
kembarnya Reina.
“Ah Ibu,
selamat pagi,” sapa Riena. “Bolehkah aku mengambil sarapan sekarang?”
“Tentu,”
jawab ibunya lemah lembut, sambil membawakan Riena sepiring nasi dan lauknya,
tanpa mempedulikan pintu rumah yang ditutup dengan sangat keras, sehingga
menimbulkan bunyi bedebam. Saat itu juga pertengkaran ayah dan anak berhenti.
Riena, yang masih memegang piring makannya
hanya menatap sedih ke arah pintu. Pertengkaraan seperti ini sering terjadi di
antara keluarganya. Ini sebuah klise baginya. Ayahnya pun datang menghampiri
Riena.
“Riena,
ayah harap kau jangan jadi seperti anak itu. Membuat kacau suasana pagi, dan
berangkat sekolah begitu saja tanpa mempedulikan kami, orang tuanya.” Pria tua
itu pun berjalan menjauh dari Riena menuju kamarnya.
o~o~o
Di suatu sekolah SMA Negeri favorit, Reina
termenung di jam istirahat. Tiba-tiba seseorang mengagetkannya dari belakang,
“Reina..!”
Riena
yang terlonjak kaget segera berbalik kebelakang, “Kau mengagetkanku saja Elda!”
“Maaf,
tapi kau jangan melamun begitu dong. Serem.”
“Kau
saja yang menganggapnya begitu,” jawab Reina ketus.
“Ih
jutek.” Bibir gadis bernama Elda itu mengerucut sebal. “Omong-omong kau tidak
berangkat bersama dengan kakak kembarmu?”
“Itu
‘kan hal biasa. Kenapa kau mempermasalahkannya sih?”
“Coba
kalian lebih akur.”
“Tak-mung-kin,”
Reina mengejanya, supaya Elda yakin.
“Apanya
yang tak mungkin Rei?” Tiba-tiba seseorang yang sedang mereka bicarakan datang
dan mengintrupsi obrolan mereka berdua.
“Eh,
Riena,” sapa Elda.
“Hai,
Elda,” balas Riena semangat.
“Elda
aku duluan.” Reina buru-buru meninggalkan tempat tersebut begitu menyadari
keberadaan Riena.
“Eh?”
“Sudahlah
Riena, dia tidak suka berada di dekatmu.”
“Kok
begitu?” Tanya Riena polos.
“Riena
sayang…. Rei merasa jadi bayanganmu bila kau ada di sekelilingnya, Bukankah kau
tau itu?” jelas Elda,
Riena
menunduk lesu, “Ya, aku tahu. Sangat tahu.”
Elda
kembali mengoceh, “Kau pintar, cantik, feminim, berbakat dan supel. Kau
mendekati sempurna,”
“dan
dari dulu kau lebih disayang orang tuamu ketimbang Rei,” lanjutnya.
Senyum
miris terkembang di bibir Riena, “Mungkin lebih baik aku tak dilahirkan ke
dunia, jika membuat Rei susah.”
“Tidak
juga Rie, aku malah berharap kalian itu akur. Kau harus mengubah Reina.”
“Bicara
itu mudah Elda,” tukas Riena cepat.
Elda pun
menggenggam kedua lengan Riena, maniknya menatap lurus ke arah manik Almond
Riena. “Hei, hei, aku percaya bahwa kau dapat melakukannya. Kau pasti dapat
merubahnya.”
“Kau
terlalu berlebihan Elda.” Sebuah senyuman lepas terkembang di wajah Riena.
o~o~o
Kebetulan saat jam pelajaran Kimia, kembar
bersaudara itu berada di Laboratorium Kimia yang sama. Tetapi, kegiatan yang
dilakukan kelas mereka jauh berbeda. Kelas Reina menonton slide-slide
powerpoint di bagian sebelah kiri, sedangkan kelas Riena mengadakan sebuah
percobaan di bagian Lab. sebelah kanan. Kelas Reina telah selesai dan bersiap
meninggalkan ruangan. Berlainan dengan kelas Riena yang masih berkutat dengan
percobaannya pada tahap akhir.
Saat melihat adiknya keluar lebih dulu, Riena
sempat melirik pintu keluar ketika ia sedang memegang dua tabung reaksi. Tanpa
ia sadari, salah satu tabungnya lepas dari pegangan tangannya. Teriakkan Riena
bergema di seluruh penjuru Laboratorium. Reina yang masih berada di bibir pintu
masuk Lab. segera berlari mendekat ke sumber teriakkan begitu
mendengarnya.
Saat, Riena terkejut, ia mundur beberapa
langkah dan punggungnya menyentuh lemari yang tepat di atasnya terdapat
penyangga termometer. Penyangga tersebut menjadi tidak stabil dan jatuh menimpa
deretan tabung reaksi di sebelah kanannya.
Sebelum
pecahan-pecahan kaca tersebut behamburan ke udara dan mengenai Riena yang
sedang shock berat, Reina telah menghadangnya dan bertatapan langsung dengan
pecahan kaca tersebut. Alhasil, menyebabkan luka-luka dan sebelah matanya
kemasukkan pecahan kaca. Riena panik, Reina tak sadarkan diri. Hari si kembar
indentik kali ini sangatlah kacau.
o~o~o
Saat Reina membuka sebelah matanya, bau
alkohol menyeruak di sekitar ruangan. Jarum infus pun tersemat rapi di tangan
kanannya. Ini rumah sakit, batinnya mencelos. Terdengar suara gerutu dari luar
kamar tentang dirinya. Ini pasti gerutuan ayahnya yang menganggap dia
merepotkan. Kemudian ia kembali menatap langit-langit ruangan. Perlahan, Ia
meraba perban yang melilit mata kirinya. Dengan kesadaran penuh ia
menyelamatkan Riena, kakak kembarnya yang menjadi beban hidupnya. Ia pun sadar,
bahwa inilah salah satu risikonya dan tentu saja mata kirinya tak akan bisa
digunakan lagi.
Sesaat kemudian, pintu kamar terbuka,
memperlihatkan sosok serupa dengan penghuni kamar. Riena, nama itulah yang
langsung terlintas dalam benak Reina. Riena memakai dress berwarna kuning pudar
selutut dengan aksen renda di ujung roknya. Matanya terlihat sembab, dan
kantung hitam pun jelas terlihat. Apakah dia begitu mengkhawatirkan Reina
hingga menangis semalaman? Mungkin ini lebih terdengar seperti lelucon di
telinga Reina, tapi memang kenyataanya begitu.
“Rei,”
lirihnya pelan.
“Sudah
berapa lama aku terbaring di sini?” tanya Reina tanpa basa-basi.
“Tiga
hari, dan Elda sempat menjengukmu.”
“Lalu
mau apa kau kesini?” tanya Reina sarkasme.
“A-aku…
hanya khawatir Rei,”
“Kalau
kau sudah mengetahui aku sudah sadar, cepatlah pergi dari ruanganku.”
Riena
pun menunduk, poni-poninya menutupi manik indahnya. “Maaf Reina,” lirihnya
pelan sambil menahan air mata.
Diam.
Reina tidak merespon apa-apa.
“Aku
sudah menjelaskan dan meyakinkan orang tua kita bahwa ini semua murni
kesalahanku.” Suara Riena terdengar bergetar. “Baiklah, aku akan keluar sekarang
dan kembali lagi saat kau diizinkan untuk pulang Rei.”
Riena
pun memutar kenop pintu dan membukanya. Sebelum ia pergi, Riena berbalik dan
rangakaian kata meluncur dari bibirnya, “Cepat sembuh, Reina.” Ia tersenyum,
sekaligus menangis. Karena alur-alur air mata nampak jelas di wajahnya. Riena
pun menutup pintu kamar dan lekas pergi.
o~o~o
Saat Reina diperbolehkan pulang oleh dokter,
seperti janjinya, Riena datang kembali. Tidak seperti sebelumnya, Riena tampak
lebih semangat kali ini.
“Kalau
Rei kesulitan berjalan, aku akan memapahmu,” tawarnya pada Reina.
“Kau
tidak usah melakukan hal-hal yang tidak perlu.”
“Tapi
aku takut Reina kesusahan.”
“Apakah
kau sadar ulah siapa aku jadi begini?”
Hening.
Lidah Riena kelu. Ia tahu bahwa dirinya sendirilah yang menyebabkan semua
ini.
Dalam
perjalanan pulang, setelah Reina melontarkan pertanyaan rektoris tersebut,
mereka tak saling bicara. Sampai mereka berada di perempatan jalan, satu blok
kira-kira jauhnya dari rumah mereka.
“Reina,
aku bantu kau menyebrang ya?”
“Tidak
mau.”
“Di sini
laju kendaraaanya cukup kencang Rei,” jelas Riena.
Reina
pun memutar kedua bola matanya, “Aku bisa menyeberang sendiri.”
Reina
pun melangkahkan kedua kakinya ke trotoar yang terdapat zebra-cross dan segera
menyeberang. Tapi sayangnya, ada mobil pick-up yang mengebut di lajur kiri, dan
bersiap menabrak Reina. Riena yang melihat mobil itu akan menabrak Reina,
segera berlari dan mendorong Reina keseberang, seiring dengan jeritan Reina
yang terdengar seperti alarem kebakaran.
Reina pun
segera berlari ke tubuh Riena yang terpental sejauh 3 meter dari lokasi
kejadian, dan tidak mempedulikan supir mobil tersebut yang kabur.
“Riena!”
Reina mengguncang-guncang tubuh mungil Riena. “Kumohon, sadarlah,” lirihnya
putus asa.
“Rei,”
mata Almond Riena bertemu dengan milik Reina. “Yang aku lakukan adalah hal yang
benarkan?” lanjutnya pelan dengan darah segar yang masih mengucur dari luka
sobek di kepalanya.
“Ja-jangan
banyak bicara dulu Rie!” Reina mulai panik. “Aku harus segera mencari bantuan untuk
membawamu ke rumah sakit.”
“Biar,
tak usah. Kau pernah bilang, jangan lakukan hal yang tidak perlu.”
“Riena
bodoh!” Bulir-bulir air mata pun berjatuhan dari matanya. “Aku tak ingin kau
pergi secepat itu tahu!” teriaknya sambil terisak.
“Rei,
bukankah kau menginginkanku untuk lenyap? Bukankah kau juga membenciku?” tanya
Riena sembari batuk darah.
“Justru
itu! Aku sangat…”
“sangat
menyayangimu.” Kata itu Reina teriakkan dengan lantang, dan isakkanya semakin
keras.
“Kau
jangan berlebihan seperti itu Rei.” Mata Riena mulai terpejam, ia pun
mengusap-usap perban yang menutupi mata kiri Reina. “Kau bisa mengambil mataku
jika nanti aku mati nanti.”
“Jangan
berkata begitu Riena.” Air mata Reina terus bergulir, dan kadang kala menetes
di tubuh Riena.
“Kau
harus menerimanya Rei.”
Reina
mengangguk pelan, “Baiklah, jika kau memaksa.”
Sekilas,
senyuman tipis muncul di bibir Riena. “Aku boleh tidak meminta sesuatu?”
“Tentu,”
jawab Reina dengan nada bergetar.
“Bisa
kau panggil aku kakak?” Nafas Riena terlihat sesak, seakan akan ruhnya mulai
ditarik oleh malaikat pencabut nyawa.
Bibir
Reina pun mencoba berucap, “Kakak, Kak Riena.”
Tak ada
respon sama sekali. Otot-otot Riena pun terlihat melemas, lebih lemas dari yang
tadi.
“Kak?”
Reina mulai panik.
Sebelah
mata Reina membelalak kaget ketika desah nafas Riena tak kunjung terdengar, dan
bibirnya berubah pucat.
“KAKAK!!”
Reina menjerit frustasi, ketika ia tahu ruh kakaknya sudah tak ada di dunia
lagi.
Ia
menyesal sekarang. Ia benar-benar menyesali seluruh perlakuannya terhadap kakak
kembarnya, walaupun ia tidak bermaksud begitu. Reina pun mendekap raga
kembarannya, dan mebisikkan rantai-rantai kalimat di telinganya, “Aku tak
membecimu, itu alasan kenapa aku menolongmu di Lab. Kimia.” Ia mendekapnya
lebih erat, “Sekali lagi, aku menyayangimu Riena, kakak kembarku tersayang.”
o~o~o
Sejak saat itu Reina benci bercermin dan
melihat pantulan dirinya di sana. Wajah, postur tubuh, suara, benar-benar mirip
dengan kakak kembarnya, Riena. Reina sangat merasa bersalah ketika mengingat
pengorbanan Riena untuknya. Tapi satu hal yang Reina ingat, Riena tersenyum di
saat ruhnya lepas dari raganya. Senyuman yang damai. Senyuman karena semua
bebannya telah lepas. Yang jelas sekarang, walau ia sudah tiada, Riena tau
bahwa Reina menyayanginya.
Di
peringatan 3 tahunnya Riena meninggal, Reina selalu datang dan melakukan ritual
yang biasa ia lakukan saat menyimpang ke pusaran kakaknya. Menyimpan sebuket
bunga, mendo’akannya, dan membisikkannya aku sayang padamu. Karena ketika Riena
belum pergi untuk selamanya, Reina belum pernah mengucapkannya, selain di
saat-saat terakhir. Jadi inilah balasannya, untuk Riena. Suatu timbal balik
yang terlambat, antara dirinya dan kakak kembarnya.
=========
A/n:
cuma cerita lama yang tidak happy ending dan malah ga di edit sama sekali :'D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar