Kamis, 14 November 2013

[Cerpen Original] Cermin ~ Lisantri


Cermin

Oleh : Lisantri Puspa W.


Di suatu ruangan yang temaram, nampak seorang gadis bersurai Hitam sebahu duduk meringkuk mendekap kedua lututnya. Di balik maniknya yang sewarna Almond, tersirat rasa bersalah dan rasa sedih. Sedih? Kenapa gadis tersebut harus sedih? Padahal beban bagi hidupya kini telah tiada. Bukankah seharusnya ia senang?

Kemudian gadis tersebut mengambil cermin yang tergeletak di sampingnya. Saat ia memandang cermin tersebut, pantulannya dirinya nampak di cermin. Dari kontur wajahnya, hidungnya yang mancung, mata almond-nya yang tajam, rambutnya yang sehitam Batu Satam, dan bibirnya yang ranum. Semua itu mendekati kesempurnaan. Tapi sayangnya, bulir-bulir bening mulai menumpuk di pelupuk matanya, dan mulai meluncur bebas-jatuh kebawah. Menyebabkan lajur-lajur air tebentuk di wajah porselennya. Kemudian ia mengeratkan genggamannya pada cermin, dan mendekapnya perlahan. Samar-samar terdengar suara isak tangis yang menggema di ruangan tersebut.

“Kakak…” lirihnya di sela-sela isak tangisnya.

o~o~o

Seorang gadis bersurai Hitam sebahu bergegas menuruni anak tangga di rumahnya. Ia berlari menuju ruang makan untuk mengambil sarapannya. Pertengkaran kecil pun menghiasi paginya. Sudah bisa ia tebak siapa yang berbicara dengan nada tinggi, dan siapa yang sama sekali tidak menggubris ocehan orang pertama. Tidak lain dan tidak bukan adalah Ayah dan adik kembarnya sendiri, Reina.

“Riena.” Seorang wanita paruh baya memanggil dan menghampiri gadis bernama Riena, kakak kembarnya Reina. 

“Ah Ibu, selamat pagi,” sapa Riena. “Bolehkah aku mengambil sarapan sekarang?”

“Tentu,” jawab ibunya lemah lembut, sambil membawakan Riena sepiring nasi dan lauknya, tanpa mempedulikan pintu rumah yang ditutup dengan sangat keras, sehingga menimbulkan bunyi bedebam. Saat itu juga pertengkaran ayah dan anak berhenti.

Riena, yang masih memegang piring makannya hanya menatap sedih ke arah pintu. Pertengkaraan seperti ini sering terjadi di antara keluarganya. Ini sebuah klise baginya. Ayahnya pun datang menghampiri Riena.

“Riena, ayah harap kau jangan jadi seperti anak itu. Membuat kacau suasana pagi, dan berangkat sekolah begitu saja tanpa mempedulikan kami, orang tuanya.” Pria tua itu pun berjalan menjauh dari Riena menuju kamarnya.

o~o~o

Di suatu sekolah SMA Negeri favorit, Reina termenung di jam istirahat. Tiba-tiba seseorang mengagetkannya dari belakang, “Reina..!”

Riena yang terlonjak kaget segera berbalik kebelakang, “Kau mengagetkanku saja Elda!”

“Maaf, tapi kau jangan melamun begitu dong. Serem.”

“Kau saja yang menganggapnya begitu,” jawab Reina ketus.

“Ih jutek.” Bibir gadis bernama Elda itu mengerucut sebal. “Omong-omong kau tidak berangkat bersama dengan kakak kembarmu?”

“Itu ‘kan hal biasa. Kenapa kau mempermasalahkannya sih?”

“Coba kalian lebih akur.”

“Tak-mung-kin,” Reina mengejanya, supaya Elda yakin.

“Apanya yang tak mungkin Rei?” Tiba-tiba seseorang yang sedang mereka bicarakan datang dan mengintrupsi obrolan mereka berdua.

“Eh, Riena,” sapa Elda.

“Hai, Elda,” balas Riena semangat.

“Elda aku duluan.” Reina buru-buru meninggalkan tempat tersebut begitu menyadari keberadaan Riena.

“Eh?”

“Sudahlah Riena, dia tidak suka berada di dekatmu.”

“Kok begitu?” Tanya Riena polos.

“Riena sayang…. Rei merasa jadi bayanganmu bila kau ada di sekelilingnya, Bukankah kau tau itu?” jelas Elda, 

Riena menunduk lesu, “Ya, aku tahu. Sangat tahu.” 

Elda kembali mengoceh, “Kau pintar, cantik, feminim, berbakat dan supel. Kau mendekati sempurna,”

“dan dari dulu kau lebih disayang orang tuamu ketimbang Rei,” lanjutnya.

Senyum miris terkembang di bibir Riena, “Mungkin lebih baik aku tak dilahirkan ke dunia, jika membuat Rei susah.”

“Tidak juga Rie, aku malah berharap kalian itu akur. Kau harus mengubah Reina.”

“Bicara itu mudah Elda,” tukas Riena cepat.

Elda pun menggenggam kedua lengan Riena, maniknya menatap lurus ke arah manik Almond Riena. “Hei, hei, aku percaya bahwa kau dapat melakukannya. Kau pasti dapat merubahnya.”

“Kau terlalu berlebihan Elda.” Sebuah senyuman lepas terkembang di wajah Riena.

o~o~o

Kebetulan saat jam pelajaran Kimia, kembar bersaudara itu berada di Laboratorium Kimia yang sama. Tetapi, kegiatan yang dilakukan kelas mereka jauh berbeda. Kelas Reina menonton slide-slide powerpoint di bagian sebelah kiri, sedangkan kelas Riena mengadakan sebuah percobaan di bagian Lab. sebelah kanan. Kelas Reina telah selesai dan bersiap meninggalkan ruangan. Berlainan dengan kelas Riena yang masih berkutat dengan percobaannya pada tahap akhir.

Saat melihat adiknya keluar lebih dulu, Riena sempat melirik pintu keluar ketika ia sedang memegang dua tabung reaksi. Tanpa ia sadari, salah satu tabungnya lepas dari pegangan tangannya. Teriakkan Riena bergema di seluruh penjuru Laboratorium. Reina yang masih berada di bibir pintu masuk Lab. segera berlari mendekat ke sumber teriakkan begitu mendengarnya. 

Saat, Riena terkejut, ia mundur beberapa langkah dan punggungnya menyentuh lemari yang tepat di atasnya terdapat penyangga termometer. Penyangga tersebut menjadi tidak stabil dan jatuh menimpa deretan tabung reaksi di sebelah kanannya. 

Sebelum pecahan-pecahan kaca tersebut behamburan ke udara dan mengenai Riena yang sedang shock berat, Reina telah menghadangnya dan bertatapan langsung dengan pecahan kaca tersebut. Alhasil, menyebabkan luka-luka dan sebelah matanya kemasukkan pecahan kaca. Riena panik, Reina tak sadarkan diri. Hari si kembar indentik kali ini sangatlah kacau.

o~o~o

Saat Reina membuka sebelah matanya, bau alkohol menyeruak di sekitar ruangan. Jarum infus pun tersemat rapi di tangan kanannya. Ini rumah sakit, batinnya mencelos. Terdengar suara gerutu dari luar kamar tentang dirinya. Ini pasti gerutuan ayahnya yang menganggap dia merepotkan. Kemudian ia kembali menatap langit-langit ruangan. Perlahan, Ia meraba perban yang melilit mata kirinya. Dengan kesadaran penuh ia menyelamatkan Riena, kakak kembarnya yang menjadi beban hidupnya. Ia pun sadar, bahwa inilah salah satu risikonya dan tentu saja mata kirinya tak akan bisa digunakan lagi.

Sesaat kemudian, pintu kamar terbuka, memperlihatkan sosok serupa dengan penghuni kamar. Riena, nama itulah yang langsung terlintas dalam benak Reina. Riena memakai dress berwarna kuning pudar selutut dengan aksen renda di ujung roknya. Matanya terlihat sembab, dan kantung hitam pun jelas terlihat. Apakah dia begitu mengkhawatirkan Reina hingga menangis semalaman? Mungkin ini lebih terdengar seperti lelucon di telinga Reina, tapi memang kenyataanya begitu.

“Rei,” lirihnya pelan.

“Sudah berapa lama aku terbaring di sini?” tanya Reina tanpa basa-basi.

“Tiga hari, dan Elda sempat menjengukmu.”

“Lalu mau apa kau kesini?” tanya Reina sarkasme.

“A-aku… hanya khawatir Rei,”

“Kalau kau sudah mengetahui aku sudah sadar, cepatlah pergi dari ruanganku.”

Riena pun menunduk, poni-poninya menutupi manik indahnya. “Maaf Reina,” lirihnya pelan sambil menahan air mata.

Diam. Reina tidak merespon apa-apa.

“Aku sudah menjelaskan dan meyakinkan orang tua kita bahwa ini semua murni kesalahanku.” Suara Riena terdengar bergetar. “Baiklah, aku akan keluar sekarang dan kembali lagi saat kau diizinkan untuk pulang Rei.”

Riena pun memutar kenop pintu dan membukanya. Sebelum ia pergi, Riena berbalik dan rangakaian kata meluncur dari bibirnya, “Cepat sembuh, Reina.” Ia tersenyum, sekaligus menangis. Karena alur-alur air mata nampak jelas di wajahnya. Riena pun menutup pintu kamar dan lekas pergi.

o~o~o

Saat Reina diperbolehkan pulang oleh dokter, seperti janjinya, Riena datang kembali. Tidak seperti sebelumnya, Riena tampak lebih semangat kali ini.

“Kalau Rei kesulitan berjalan, aku akan memapahmu,” tawarnya pada Reina.

“Kau tidak usah melakukan hal-hal yang tidak perlu.”

“Tapi aku takut Reina kesusahan.”

“Apakah kau sadar ulah siapa aku jadi begini?”

Hening. Lidah Riena kelu. Ia tahu bahwa dirinya sendirilah yang menyebabkan semua ini. 
Dalam perjalanan pulang, setelah Reina melontarkan pertanyaan rektoris tersebut, mereka tak saling bicara. Sampai mereka berada di perempatan jalan, satu blok kira-kira jauhnya dari rumah mereka.

“Reina, aku bantu kau menyebrang ya?”

“Tidak mau.”

“Di sini laju kendaraaanya cukup kencang Rei,” jelas Riena.

Reina pun memutar kedua bola matanya, “Aku bisa menyeberang sendiri.”

Reina pun melangkahkan kedua kakinya ke trotoar yang terdapat zebra-cross dan segera menyeberang. Tapi sayangnya, ada mobil pick-up yang mengebut di lajur kiri, dan bersiap menabrak Reina. Riena yang melihat mobil itu akan menabrak Reina, segera berlari dan mendorong Reina keseberang, seiring dengan jeritan Reina yang terdengar seperti alarem kebakaran.

Reina pun segera berlari ke tubuh Riena yang terpental sejauh 3 meter dari lokasi kejadian, dan tidak mempedulikan supir mobil tersebut yang kabur. 

“Riena!” Reina mengguncang-guncang tubuh mungil Riena. “Kumohon, sadarlah,” lirihnya putus asa.

“Rei,” mata Almond Riena bertemu dengan milik Reina. “Yang aku lakukan adalah hal yang benarkan?” lanjutnya pelan dengan darah segar yang masih mengucur dari luka sobek di kepalanya.

“Ja-jangan banyak bicara dulu Rie!” Reina mulai panik. “Aku harus segera mencari bantuan untuk membawamu ke rumah sakit.”

“Biar, tak usah. Kau pernah bilang, jangan lakukan hal yang tidak perlu.”

“Riena bodoh!” Bulir-bulir air mata pun berjatuhan dari matanya. “Aku tak ingin kau pergi secepat itu tahu!” teriaknya sambil terisak.

“Rei, bukankah kau menginginkanku untuk lenyap? Bukankah kau juga membenciku?” tanya Riena sembari batuk darah.

“Justru itu! Aku sangat…”
“sangat menyayangimu.” Kata itu Reina teriakkan dengan lantang, dan isakkanya semakin keras.

“Kau jangan berlebihan seperti itu Rei.” Mata Riena mulai terpejam, ia pun mengusap-usap perban yang menutupi mata kiri Reina. “Kau bisa mengambil mataku jika nanti aku mati nanti.”

“Jangan berkata begitu Riena.” Air mata Reina terus bergulir, dan kadang kala menetes di tubuh Riena.

“Kau harus menerimanya Rei.”

Reina mengangguk pelan, “Baiklah, jika kau memaksa.”

Sekilas, senyuman tipis muncul di bibir Riena. “Aku boleh tidak meminta sesuatu?”

“Tentu,” jawab Reina dengan nada bergetar.

“Bisa kau panggil aku kakak?” Nafas Riena terlihat sesak, seakan akan ruhnya mulai ditarik oleh malaikat pencabut nyawa.

Bibir Reina pun mencoba berucap, “Kakak, Kak Riena.”

Tak ada respon sama sekali. Otot-otot Riena pun terlihat melemas, lebih lemas dari yang tadi.
“Kak?” Reina mulai panik.

Sebelah mata Reina membelalak kaget ketika desah nafas Riena tak kunjung terdengar, dan bibirnya berubah pucat.
“KAKAK!!” Reina menjerit frustasi, ketika ia tahu ruh kakaknya sudah tak ada di dunia lagi.

Ia menyesal sekarang. Ia benar-benar menyesali seluruh perlakuannya terhadap kakak kembarnya, walaupun ia tidak bermaksud begitu. Reina pun mendekap raga kembarannya, dan mebisikkan rantai-rantai kalimat di telinganya, “Aku tak membecimu, itu alasan kenapa aku menolongmu di Lab. Kimia.” Ia mendekapnya lebih erat, “Sekali lagi, aku menyayangimu Riena, kakak kembarku tersayang.”

o~o~o

Sejak saat itu Reina benci bercermin dan melihat pantulan dirinya di sana. Wajah, postur tubuh, suara, benar-benar mirip dengan kakak kembarnya, Riena. Reina sangat merasa bersalah ketika mengingat pengorbanan Riena untuknya. Tapi satu hal yang Reina ingat, Riena tersenyum di saat ruhnya lepas dari raganya. Senyuman yang damai. Senyuman karena semua bebannya telah lepas. Yang jelas sekarang, walau ia sudah tiada, Riena tau bahwa Reina menyayanginya.

Di peringatan 3 tahunnya Riena meninggal, Reina selalu datang dan melakukan ritual yang biasa ia lakukan saat menyimpang ke pusaran kakaknya. Menyimpan sebuket bunga, mendo’akannya, dan membisikkannya aku sayang padamu. Karena ketika Riena belum pergi untuk selamanya, Reina belum pernah mengucapkannya, selain di saat-saat terakhir. Jadi inilah balasannya, untuk Riena. Suatu timbal balik yang terlambat, antara dirinya dan kakak kembarnya.

=========

A/n: cuma cerita lama yang tidak happy ending dan malah ga di edit sama sekali :'D


Tidak ada komentar:

Posting Komentar