Cermin
Oleh : Lisantri Puspa W.
Di suatu ruangan yang temaram, nampak seorang gadis bersurai Hitam sebahu duduk meringkuk mendekap kedua lututnya. Di balik maniknya yang sewarna Almond, tersirat rasa bersalah dan rasa sedih. Sedih? Kenapa gadis tersebut harus sedih? Padahal beban bagi hidupya kini telah tiada. Bukankah seharusnya ia senang?
Kemudian gadis tersebut mengambil cermin yang
tergeletak di sampingnya. Saat ia memandang cermin tersebut, pantulannya
dirinya nampak di cermin. Dari kontur wajahnya, hidungnya yang mancung, mata
almond-nya yang tajam, rambutnya yang sehitam Batu Satam, dan bibirnya yang
ranum. Semua itu mendekati kesempurnaan. Tapi sayangnya, bulir-bulir bening
mulai menumpuk di pelupuk matanya, dan mulai meluncur bebas-jatuh kebawah.
Menyebabkan lajur-lajur air tebentuk di wajah porselennya. Kemudian ia
mengeratkan genggamannya pada cermin, dan mendekapnya perlahan. Samar-samar
terdengar suara isak tangis yang menggema di ruangan tersebut.
“Kakak…”
lirihnya di sela-sela isak tangisnya.