Tampilkan postingan dengan label pohon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pohon. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 November 2013

[Cerpen Original] Kebesaran Hati ~ Lisantri


Kebesaran Hati
Oleh: Lisantri Puspa W.



Di sinilah aku, menghadap hamparan hutan beton di seberang sana. Beberapa puluh tahun lalu, pemandangan di hadapanku merupakan rumpun berbagai pepohononan dan tumbuhan hijau. Banyak binatang yang tinggal di sekitar kami. Tapi sepuluh tahun dari masa itu, setelah kendaraan-kendaraan berbadan besar itu menumbangkan pepohonan dan meratakan tanah di hadapanku, gedung-gedung beton itu mulai bermunculan bak tunas tauge yang baru tumbuh. Binatang-binatang di sini pun mulai menghilang satu persatu dari tempat ini, digantikan oleh besi-besi yang menderu dan melintasi jalan beraspal di hadapanku.

Suara bising dari kendaraan yang melintasi aspal panas di hadapanku sering menggantikan kicau burung nan merdu di pagi hari. Beberapa tahun lalu, suara kicauan burung lebih mendominasi dari pada suara bising nan memengkakan telinga milik kendaraan berbadan besi yang beberapa tahun lalu, belumlah banyak jumlahnya dan jalan ini masih merupakan jalan setapak yang ditumbuhi rumput di sisi-sisinya.

Hangatnya sinar matahari pun begitu menyengat, membuat dedaunan di dahanku melakukan fotosintesis lebih cepat. Apakah terbesit di pikiran kalian hal ini menguntukan bagiku? Oh tidak juga, malah sinar matahari ini membuat air di dalam tanah menguap lebih cepat. Tentu saja rambut-rambut akar milikku harus berlomba dengan sinar matahari untuk mendapatkan air di musim kemarau ini.

Dulu tidak sesulit ini untuk mendapatkan air dari dalam tanah. Mengingat banyaknya pepohonan lain yang mengelilingiku, dan tanah di sekitar kami begitu subur. Ah, air sungai yang mengalir di belakangku tak sekotor sekarang. Dulu, airnya begitu jernih dan cukup banyak ikan yang hidup di sana. Tapi kini air sungai itu berubah warna, dan sepertinya tercium bau busuk? Entahlah, aku tak bisa mencium aroma yang berada di sekitarku. Manusia-manusia itulah yang bisa mencium baunya sehingga menggerutu di sampingku dan membuatku sadar bahwa sungai di belakangku bukan sungai yang jernih seperti dulu lagi.