Selasa, 19 November 2013

[Writing Tips] Writing ACTIONS Scene [English]


Writing ACTIONS Scene





-------- Original Message -----------
"I can't write an action/fight scene worth a crap. Mind you, I can usually imagine them, I just can't write them." -- Wanna Do a Fight Scene.

If you can imagine it - you can write it. The easiest way is by doing it in LAYERS.

The Quick and Dirty Method for writing Action Scenes 
~~~~~~~~~~~~~

Start with a list of ACTIONS & Reactions < in that order.
-- Actions ALWAYS go before Reactions.

(IMPORTANT! Each CHARACTER gets a SEPERATE LINE. ~ NEVER clump the separate actions of two different characters in the same paragraph or the reader will get confused as to who is doing what very quickly.)
~~~~~~~~~~~~~

[Writing Tips] Fishing for Inspiration? [English]

Fishing for INSPIRATION?




Fishing for INSPIRATION?
~~~~~~~~~~~ 
Your imagination is a pond that you fish your ideas from. Like any fishing pond, what you catch depends on what you've stocked your pond with and how much you put in there. If you fish for only the occasional idea, your little ideas have time to breed creatively until they overflow the pond, leaping right out into your hand -- and onto your keyboard. If you fish a lot, you will have to restock -- Frequently. 

A Dry Pond = Writer's Block 


What's in YOUR Imagination? 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kamis, 14 November 2013

[Cerpen Original] Cermin ~ Lisantri


Cermin

Oleh : Lisantri Puspa W.


Di suatu ruangan yang temaram, nampak seorang gadis bersurai Hitam sebahu duduk meringkuk mendekap kedua lututnya. Di balik maniknya yang sewarna Almond, tersirat rasa bersalah dan rasa sedih. Sedih? Kenapa gadis tersebut harus sedih? Padahal beban bagi hidupya kini telah tiada. Bukankah seharusnya ia senang?

Kemudian gadis tersebut mengambil cermin yang tergeletak di sampingnya. Saat ia memandang cermin tersebut, pantulannya dirinya nampak di cermin. Dari kontur wajahnya, hidungnya yang mancung, mata almond-nya yang tajam, rambutnya yang sehitam Batu Satam, dan bibirnya yang ranum. Semua itu mendekati kesempurnaan. Tapi sayangnya, bulir-bulir bening mulai menumpuk di pelupuk matanya, dan mulai meluncur bebas-jatuh kebawah. Menyebabkan lajur-lajur air tebentuk di wajah porselennya. Kemudian ia mengeratkan genggamannya pada cermin, dan mendekapnya perlahan. Samar-samar terdengar suara isak tangis yang menggema di ruangan tersebut.

“Kakak…” lirihnya di sela-sela isak tangisnya.

Rabu, 06 November 2013

[Cerpen Original] Coklat ~ Lisantri

Coklat

Oleh : Lisantri Puspa W.



Di sore hari menjelang malam, aku mendatangi sebuah café bernama Bonhéur. Wangi kafein dan coklat membaur jadi satu di ruangan yang kutempati kini. Aku mulai merapatkan jaketku dan menggosok-gosokkan kembali kedua telapak tanganku supaya hangat. Udara di kota ini kurang lebih -5˚ Celcius. Dengan alasan itu, aku menghangatkan diri di tempat ini. Aku segera duduk ketika, ada tempat yang kosong. Maklum, dengan udara yang kurang bersahabat seperti ini, orang-orang pasti tidak mau menggigil kedinginan di luar bukan? Mereka akan mendatangi tempat-tempat seperti ini-termasuk aku.

Coklat hangat pesananku telah datang. Uap terlihat mengepul dari cangkir porselen. Pelan-pelan kuraih cangkir itu, dan menyeruputnya perlahan-sesekali sambil meniupnya juga. Ah, coklat. Rasa coklat ini apik. Manis, pahit, kental, dan hangat-walau jika dibiarkan pasti dingin. Lidahku benar-benar dimanjakan olehnya.

Saat memandangi cangkir coklat yang masih mengeluarkan uap, tiba-tiba anganku melayang jauh dari raga. Memikirkan bagaimana keadaan seseorang yang kutunggu di sana. Aku pun tersenyum tipis.

[Mixed Story] Beauty and The Pig


Beauty and The Pig

Disclaimer: The original story (beauty and the beast) didn't belong to me
Re-write by: Lisantri Puspa W.



One day at Lembang, there was a simple family. The members of the family consist of a widower who had a beautiful daughter. The daughter named Bella; she was dutiful to her Father. 

Bella's Father works in the Pasirkaliki area as a businessman. When his father worked, she often worried about his father health and as a good daughter, she always cleaned the house and cooked dinner for her beloved father (although they had a Maid).

At the certain night trip, Father’s car suddenly broke down. He was alone and found no workshop near there. Bad luck, his mobile phone was out of battery. Finally, he decided to stay over at the home which was near his place. Luckily, he found an old western house.

When his father went into that house, the house was very quiet. His father was looking for someone in the kitchen, family room and at the garden. While in the garden, apparently his father saw many roses over there. The rose was Bella’s favorite flower. Finally he decided to pick a single rose.

When he was picking a flower, an ugly pig suddenly appeared and spoke,
"Who let you pick my flowers?" It was shouting at him.

"O-oh so-sorry, I was looking for someone but I found no single person here. I just wanted to pick a single rose for my daughter, because she really likes it. I'm terribly sorry," her Father was looking very scared.

It raised his eyebrows, "A daughter you said?"

"Y-yes," Her Father said that with splutter mouth.

It thought a moment, "Ok… I'll forgive you, but tomorrow I want you to bring your daughter to me. She will be my Maid in this house for a week."

"But-"

"No buts!” It yelled. “It’s already prepared. So, you must accomplices my favor and you can sleeping at my home this night."

"O-ok, thank you very much."

"Oh remember one more thing. If you broke your promise, I’ll seek your house and kill you over there." As last sentences, the ugly pig threatened him.

Senin, 04 November 2013

[Cerpen Original] Kebesaran Hati ~ Lisantri


Kebesaran Hati
Oleh: Lisantri Puspa W.



Di sinilah aku, menghadap hamparan hutan beton di seberang sana. Beberapa puluh tahun lalu, pemandangan di hadapanku merupakan rumpun berbagai pepohononan dan tumbuhan hijau. Banyak binatang yang tinggal di sekitar kami. Tapi sepuluh tahun dari masa itu, setelah kendaraan-kendaraan berbadan besar itu menumbangkan pepohonan dan meratakan tanah di hadapanku, gedung-gedung beton itu mulai bermunculan bak tunas tauge yang baru tumbuh. Binatang-binatang di sini pun mulai menghilang satu persatu dari tempat ini, digantikan oleh besi-besi yang menderu dan melintasi jalan beraspal di hadapanku.

Suara bising dari kendaraan yang melintasi aspal panas di hadapanku sering menggantikan kicau burung nan merdu di pagi hari. Beberapa tahun lalu, suara kicauan burung lebih mendominasi dari pada suara bising nan memengkakan telinga milik kendaraan berbadan besi yang beberapa tahun lalu, belumlah banyak jumlahnya dan jalan ini masih merupakan jalan setapak yang ditumbuhi rumput di sisi-sisinya.

Hangatnya sinar matahari pun begitu menyengat, membuat dedaunan di dahanku melakukan fotosintesis lebih cepat. Apakah terbesit di pikiran kalian hal ini menguntukan bagiku? Oh tidak juga, malah sinar matahari ini membuat air di dalam tanah menguap lebih cepat. Tentu saja rambut-rambut akar milikku harus berlomba dengan sinar matahari untuk mendapatkan air di musim kemarau ini.

Dulu tidak sesulit ini untuk mendapatkan air dari dalam tanah. Mengingat banyaknya pepohonan lain yang mengelilingiku, dan tanah di sekitar kami begitu subur. Ah, air sungai yang mengalir di belakangku tak sekotor sekarang. Dulu, airnya begitu jernih dan cukup banyak ikan yang hidup di sana. Tapi kini air sungai itu berubah warna, dan sepertinya tercium bau busuk? Entahlah, aku tak bisa mencium aroma yang berada di sekitarku. Manusia-manusia itulah yang bisa mencium baunya sehingga menggerutu di sampingku dan membuatku sadar bahwa sungai di belakangku bukan sungai yang jernih seperti dulu lagi.